Rabu, 19 Agustus 2015

RINDU

rindu,
lawannya adalah bertemu
jika kau rindu, itu karena tak bertemu
jika bertemu, maka kau tak lagi rindu
namun untuk merasa rindu,
pertemuan adalah pintunya
pintu yang ku buka perlahan,
dimulai dari hari perpisahan itu
rasanya semakin pilu
ketika sudah ku buka pintu lebar-lebar,
hanya desau angin yang semakin kencang
membawa daun kering yang gugur bersama airmata
hai angin, dalam hembusan yang badai ini
mengapa tak kau bawa serta suaranya?
mengapa tak kau lukiskan siluetnya di awan?
Bantu aku,
Bantu aku melawan rindu

Lawan rindu hanyalah bertemu

Selasa, 11 Agustus 2015

Semoga tidak kamu lagi
 puisi karya Zarry Hendrik


Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia
Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia
Melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu
Itu menyakitkan
Sepeerti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar
Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk
Supaya aku dapat melihat Tuhan memakaikan kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan
Sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit
Namun ketahuliah sebelum aku tak lagi mencintaimu,
Ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi tubuhku, dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku.
Ada satu hal yang sampai saat ini membuat aku bangga menjadi aku, yaitu karena aku mampu terima kau apa adanya
Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tidak lagi menginjak bumi
Sebab hidup terasa bagai dinding yang dingin
Aku harus menjadi paku
Kamu yang bagai lukisan dan cinta itu palunya.
Memukul aku, memukul aku,  dan memukul aku, sampai aku benar-benar menancap kuat

Pada akhirnya, semoga tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas 



say no to this crazy 'nyessek' thing called broken heart. selamat move on, move up and move awaaaaaayyyyy!!!!! yes you can yes you can brother and sisterr ;) 

Senin, 06 Juli 2015

tragedi si PHP dan si Baper

Cowok itu tukang PHP, rata-rata.
Cewek itu rentan Baper, kebanyakan.
Cewek Baper ketemu sama cowok PHP, maka di akhir cerita akan ada sesi galau berat dan akan muncul kalimat klise  sejenis “aku nyesel. Aku janji, lain kali aku gak mau gampang percaya sama cowok”. Tapi ternyata wabah Baper itu gak gampang sembuhnya. Gak lama, cerita yang sama terjadi lagi, dengan pemeran cowok yang berbeda. Jadinya ada cewek yang bisa bilang “semua cowok sama aja”
Rata-rata cerita cinta jaman sekarang.
This is real story about my friend.
Ada yang bilang kalo cewek paling susah ngelupain orang yang bener-bener disayanginya. Dan saya setuju. Pengalamanku pribadi, dan ditambah curhatan teman-teman. Oke, sebenernya ngelupain itu gak mungkin, keculai kita jadi amnesia. Mungkin lebih tepatnya, menjadi “biasa” akan segala hal yang berkaitan dengan dia. Atau lebih tepatnya lagi, menghilangkan rasa. Jadi, buat para cowok, kalo ketemu mantan trus kamu tanya apa dia udah lupain kamu atau belum, lalu dia jawab bahwa dia udah bisa lupain kamu, maka ada dua kemungkinan. Satu, dia bohong. Dua, dia memang gak pernah bener-bener sayang sama kamu. Yup, aku yakin 95% sama teori ini. teori ini berlaku selama gak ada “orang lain” di hatinya.
Oke, back to my friend. Ini kisah tentang si Baper dan si PHP. Cerita sejenis mungkin akan banyak ditemukan di luar sana.
Temanku ini, dia udah putus sama pacarnya pas semester awal, semester satu atau dua, aku agak lupa. Hubungan ini putus nyambung putus nyambung kayak komunikasi via telpon kehabisan signal. Di semester tiga mereka balikan, semester selanjutnya putus lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya putus beneran. Kami sebagai teman-temannya menjadi pendengar setia. Saat dia datang dengan wajah tertekuk “aku putus”. Pertama kali, kami prihatin akan keadaannya. Mengelus pundaknya dan bilang “gak pa-pa. Sabar aja. Memangnya putus kenapa?” beberapa waktu kemudian dia datang dengan wajah suringah, “aku balikan”. “waw... seneng dong. Gimana gimana ceritanya?”
Next, “aku putus lagi”. Kami mulai bertanya-tanya. Ini cowok serius gak sih?
Lalu, “aku balikan lagi loh.. hihihi”. Kami bertanya-tanya lagi, ini anak serius?
Beberapa kali cerita serupa terjadi, seolah menjadi cerita biasa yang tidak mengejutkan. Mendengar berita dia putus atau balikan sama cowoknya udah sama kayak denger orang becerita tentang perputaran bumi. Tinggal tunggu malam pasti datang, pagi pasti datang. Sekarang dia putus, besok pasti balikan.
Leganya, kondisi seperti ini ada akhirnya. setelah deklarasi putus kesekian kalinya diumumkan, sampai saat kami lulus kuliah, kami belum mendengar kabar “balikan” itu. Selang beberapa waktu setelah deklarasi putus terakhir itu, ada seorang cowok yang deketin dia. Teman lamanya. Bekerja di Jakarta.
“masak di sms dia bilang gini sih? Dia mau berhenti kerja. Mau pulang ke Madura. Mau cari kerja deket sini aja. Biar bisa deket sama seseorang”.
Saat itu juga muncul praduga diantara kami bahwa “sesorang” yang dimaksud adalah temanku.  “tapi kamu jangan GR dulu. Bisa jadi bukan.”
Di waktu yang lain,
“dia cerita lagi soal mau berhenti kerja itu. Kayaknya dia serius. Trus begitu dia pulang kesini, dia bilang mau main kerumahku. Pas aku tanya mau ngapain, katanya mau ketemu sama orangtuaku”. Surprise sih dengernya. Semua orang pasti berpikiran bahwa ini merupakan kode dari si cowok. Begitu pula aku dan teman-teman. Tapi  sekali lagi kami mengingatkan “jangan gampang percaya dulu, dan jangan diladenin serius dulu”. Seolah memiliki firasat yang sama, temanku itu langsung mengiyakan.
Komunikasi via sms dan segala sosial media yang ada nampkanya terus berlanjut. Dari semua isi pesan dari cowok itu, yah, seperti menjajikan sesuatu. Dia menceritakan rencana tentang masa depannya, pake embel-embel yang menjurus pula “iya dong, nanti kalo udah dapet kerja lagi, kan baru berani halalin anak orang” atau “ah, daripada bingung-bingung, aku mending halalin kamu aja, gimana?”
Sampai puncaknya, beberapa hari setelah wisuda kami, cowok itu benar-benar merealisasikan niatnya, pulang ke Madura.  Dan menginjakkan kaki dirumah temanku. Malu-malu bersalaman dengan orangtua temanku. Esok paginya, dengan rona merah di pipi, ia menceritakan semuanya pada kami, urut secara kronologis. Bagaimana cowok itu sampai dirumahnya, sapaan pertama mereka, tentang apa yang menjadi topik obrolan, bagaimana cowok itu menyapa orangtuanya. Semuanya. Dan kami mulai berpikir tentang keseriusan cowok itu. “dan, dia juga ngajakin buat nyari kerja bareng!” katanya masih sambil tersenyum.
Waktu berputar, perasaan temanku terhadap cowok itupun berputar seperti bola salju, yang awalnya kecil, berputar terus menerus menjadi besar. Kami mulai berpisah, kembali ke kampung halaman masing-masing. Aku mendengar ceritanya hanya sesekali, melalui sms, atau chat di facebook. Semacam ada kemajuan.
Pernah dia bercerita tentang kebahagiaannya sewaktu mendapat restu dari orangtuanya untuk dekat dengan cowok ini. “wah senengnya, trus kapan dong diseriusin? Ditindak lanjuti.” Jawabnya sambil tersenyum malu, “ya doain aja.. tahun depan”.
Tapi suatu malam, aku mendapat pesan di facebook. Dari temanku itu.
“jangan heboh soal ‘dia’ lagi ya... aku udah males. Ijah sayang, aku ngilang dulu ya... bener-bener udah sakit hati banget. Peluk dari jauh ya...”
Loh loh ada apa ini?
Langsung saja, tidak lain dan tidak bukan, si cowok sekarang meresmikan hubungan dengan perempuan lain.
Oke, cerita ini tentang si PHP dan si Baper. Lalu siapa yang salah? Aku gak memungkiri, sebagai teman dari pihak perempuan, aku dongkol setengah mati dan menyalahkan tukang PHP itu. Benar-benar PHP yang hebat, sampai bisa membuat percaya teman-teman dan orangtuanya. Tapi apa temenku sepenuhnya adalah korban? Dia tidak salah? Ya, dia korban. Tapi yang menjadikan dia sebagai korban adalah dirinya sendiri. Kesalahannya adalah, membiarkan dirinya terlalu berharap pada sesuatu yang belum pasti.
PHP dan Baper. Keduanya memiliki kontribusi yang sama. Ibaratnya, jika tukang PHP adalah maling, maka si Baper adalah tuan rumah yang lalai dalam menjaga rumahnya.
Aku prihatin dan bersedih atas kejadian yang menimpa temanku ini, tapi semoga ini menjadi pelajaran buat dia, buat aku,dan teman-teman yang mengetahui ceritanya. Karena temanku ini, aku semakin yakin bahwa sebenar-benarnya penyembuh hati hanyalah mendekatkan diri pada Allah. Bahkan aku mengatakan, “pegang prinsip ini. jangan percaya sama janji yang diberikan laki-laki, jangan jadikan ucapannya sebagai angan, seolah dia akan menjadikannya nyata, sampai dia datang kepada orangtuamu, meminta izin untuk meminangmu. Sampai saat itu tiba, teguhkan hatimu, keraskan. Seolah tidak ada yang akan bisa memasukinya. Jangan sampai terpengaruh”.
Bukankah juga dikatakan bahwa “janganlah kamu mencintai seseorang secara berlebihan, padahal belum tentu orang itu menjadi jodohmu”. Kalau sudah cinta banget, tapi ternyata gak jodoh, duh sakitnya pasti dimana-mana.
Sudah cukup rasanya perempuan dan laki-laki saling menyalahkan, apabila hubungannya berakhir dengan tidak baik. Daripada menyalahkan orang lain, mengapa tidak kembali mengintrospeksi diri? Oh, ternyata salahku, aku memberikan banyak harapan padanya, padahal aku tidak serius, padahal aku belum berani, belum mampu menjalin hubungan serius dengannya. Oh, ternyata salahku, aku terlalu GR, menganggap serius semua omongnnya, terlalu gampang tergiur, terlalu gampang percaya. Hehe... tapi andai saja semua orang berpikiran seperti itu.
Wassalam.

Sampai jumpa dicurhatan selanjutnya.

Senin, 15 Juni 2015

ciluk ba!

"ciluk ba", kami berdiri berhadapan, namun hanya kata itu yang tiba-tiba keluar dari mulutku. mesli lirih, kuucapkan dengan penuh penekanan, karena aku yakin pasti sampai dengan sempurna di telinganya. jalan kecil di depan rumahku, tidak ada keramaian yang berarti. hanya suara kayuhan sepeda penjual kerupuk keliling beberapa saat lalu. jalan kecil di depan rumahku, adalab tempat kami berdiri saat ini, tapi aku tidak akan mempersilahkannya masuk. tidak akan.
"Ya?" tanyanya
"kamu tahu kenapa anak kecil tertawa saat bermain ciluk ba?" aku tidak menunggu dan tidak ingin mendengar jawabannya, "saat wajah ditutup, " aku menutup wajah dengan kedua telapak tanganku "seperti ini, mereka pikir kita hilang. lalu, ciluk ba!" ku buka telapak tangan yang menutupi wajah, "orang yang hilang sudah ditemukan. dan mereka tertawa. karena memang rasanya menyenangkan sekali mendapati orang yang menghilang, kembali lagi."
aku menghela nafas. berharap tindakan ini bisa mengontrol emosiku.
"aku suka bermain ciluk ba. tapi dulu, ketika aku masih balita. kalau kamu mengajakku bermain lagi, sekarang, aku kira permainannya tidak akan lucu lagi. dan hatiku terlalu nyeri untuk bisa tertawa saat melihat kamu kembali. kita sudahi. aku tidak ingin bermain. untuk kesekian kalinya. denganmu."
aku menghembuskan nafas sekerasnya, tanpa menoleh lagi memasuki rumah dan menutup pintu.
apakah aku akan membuka pintu kembali dan berkata "ciluk ba", kepadanya?

Kamis, 04 Juni 2015

kalau cinta ibarat buku

kalau cinta ibarat buku, kita bertemu di halaman pertama, tapi baru menyadari perasaan ini pada bab terakhir. kalau cinta ibarat buku, maka kita adalah buku yang butuh sekuel.
*Terinspirasi dr curhatan seorang teman 😄

Sabtu, 16 Mei 2015

just a "flashback" :)

Hubungan manusia itu unik ya. Sesekali pasti sempet terlintas kan dipikiran kalian, “kok bisa ya aku sahabatan sama dia?” bahkan gak jarang ada tambahan “padahal dulu aku benci sama dia. Gak seneng.”
Sekarang ini aku juga lagi bernostalgia dalam pikiran dan kenanganku sendiri, dan menanyakan hal yang sama, “kok bisa ya aku sahabatan sama dia?” pastinya semua orang punya cerita uniknya tersendiri tentang sejarah bagaimana sebuah ikatan bernama persahabatn itu terjalin. Dan coba dipikir dalam-dalam, persahabatan yang awet itu terjalin secara alami.
Dimulai sejak aku tahu istilah teman atau sahabat, selain dua mbakku, aku sudah mengenal manusia bernama mbak ita, mbak ayu, dan mbak ila. Karena aku yang paling muda diantara mereka, bisa dipastikan bahwa aku sudah bertemu mereka semenjak bayi. Hehe... kalau dibilang persahabatan kami terjalin karena besar di lingkungan yang sama, memang benar. Dan sampai hari ini aku bersyukur bisa tumbuh bersama mereka. Lingkungan yang sama tidak menjamin kami memiliki karakter yang sama. Secara garis besar, diantara kami berempat, I am the introvert one. Mereka bertiga lebih ekstrovert. Terbuka, dan lincah dalam bergaul. Lebih detail lagi, akan ditemukan banyak perbedaan. Dari sikap positif seperti humoris, perduli, keibuan, easy going, sabar, pemaaf, sampai yang negatif seperti keras kepala, cuek, gak bisa dibilangin dan lain-lain. Tapi ya kami tetap saja berempat macam girlband. Meski kadang ada selisih paham, tapi kami gak pernah berantem serius. Paling ya pagi marahan, siang udah ngobrol lagi, hehe...
Yang paling diingat itu hal-hal konyol yang kita lakuin waktu kecil. Dulu tuh bak Ila seolah-olah jadi ketua geng-nya, karena apa aja yang dia  suruh pasti kita lakuin. Aneh, kalo dipikir sekarang. Dan sumpah dia itu isengnya maksimal. Pernah nih ya kita makan garam banyak banget sampai pahitnya di kerongkongan gak ketulungan, Cuma gara-gara apa coba? Cuma gara-gara dia bilang “makan garam itu bisa bikin kita terbebas dari penyakit tekanan darah tinggi”. Entah dia mendapat ilham darimana. Ckckck
Yang paling konyol, ada. Dia nadahin ‘gas’nya (kentut) ke botol, trus kita mau-maunya menghirup isi botol itu hanya demi membuktikan sebuah teori bahwa, “gas itu ada, dan bisa menempati sebuah wadah tanpa merubah baunya.” Tetep baulah, haha.. namanya juga tetep kentut meskipun sempet ditransfer ke botol beberapa detik.
Dikejar orang gila karena ngikutin dia, juga pernah. :D pokoknya banyak kejadian konyol bin gak penting kalo ngikutin bak Ila, tapi selalu seru, haha
Bak Ayu, orang perantauan di desa kami. Ibu asli Bojonegoro, Bapak dari Tuban. Dari kecil tinggal di Madura. Tapi, gak bisa ngomong Bahasa Jawa, gak bisa ngomong Bahasa Madura juga. Untung banget kan ada Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Jadi dalam berkomunikasi dia  pake Bahasa itu. Ajaib. Anak ini tuh gak seneng basa-basi. Dari sakingnya, dia itu mengartikan “anggep aja rumah sendiri” dalam artian yang sebenarnya. Bahkan dia lebih sering tidur di rumahku daripada di rumahnya sendiri. Serius. Haha... dan mungkin malah lebih kangen sama mbahku daripada sama mbahnya sendiri. Ah, dia memang terlalu menyayangi keluargaku. Jadi terharu, hiks hiks srooot....
Bak Ita yang paling seumuran sama aku. Hanya selang beberapa bulan. Dari kecil kita itu beda banget, seperti antonim. Dia berkulit kuning, aku berkulit coklat. Dia berbadan kecil, aku berbadan besar dan berisi (bahkan waktu pertama bisa duduk, penampakanku seperti seorang petinju, kekar dan hitam, dan... gundul). Setiap kami berdua melewati rumah mbak Ila, Mak Mi (Ibunya mbak Ila) selalu memanggil kami dengan sebutan ‘se celleng’ (si hitam) buat aku, dan ‘se kotet’ (si boncel) buat bak ita. Sedari kecil dia selalu tampil feminim dengan rambut panjang dan baju yang girly, sedangkan aku, rambutku selalu pendek dan tidak pernah mau memakai rok. Dia sangat suka tampil, sedangkan aku pemalu. Tapi kemanapun kami selalu berdua, kayak Upin dan Ipin kali ya... dari saking seringnya berdua, banyak orang yang bilang kalau wajah kami sekilas mirip, padahal, sudah jelas kami berbeda dari kecil. Entahlah,, hehe. Jojoy juga pernah bilang “makanya jangan sama Ita trus, sampai-sampai wajahnya jadi mirip gitu”. See?
Menginjak masa SMP, aku yang introvert ini kembali dipertemukan dengan sahabat yang ekstrovert. Dua sekaligus. Ani dan Anggia. Aku kenal Ani dari kelas ! SMP. Tawanya yang khas selalu terkenang. Seperti mak lampir (hihi, sorry Ani). Dia dari Jember. Medoknya itu, kental sekali. Kalau dia ngomong, seisi kelas bisa dibuat tertawa. Selain Ani yang kocak, juga ada Hotim, anak sederhana dan bersahaja. Pendiam dan rajin. Anak yang lurus.
Nah, Anggia. Inget bangeeet pertama kali ketemu sama orang ini. Hari pertama masuk kelas VIII-4. Kesan pertama itu, “anak ini aneh banget”. Dengan rambutnya yang keriting gede, agak pirang, postur tubuh tinggi dan kurus, kaos kaki dengan karet yang sedikit kedodoran (dih sumpah dia itu dulu culun banget, bahkan itu betisnya kadang ada sisiknya, gak pake lotion tuh anak kali, haha) berdiri di depanku tolah-toleh, trus nanya “eh disini bangkunya kosong?” dengan satu anggukanku, jadilah kami teman sebangku di kelas itu.
Di awal, kadang suka kesel sendiri dengan teman sebangku yang gak bisa diem. Tempat duduk kami yang mepet tembok, kadang membuatku kesel sendiri karena badannya yang tinggi itu sering menghalangi pandanganku ke papan. Itu di awal aja sih, karena setelah beberapa hari, aku mulai bisa menyesuaikan. Dan luckyly, we have the same hobby. We both like wathching movie and reading novel. Jadilah kami bersatu saling bertukar cerita tentang film dan novel apa saja yang sudah pernah dibaca. Dari situ, kita berdua keranjingan sama yang namanya Harry Potter. Nonton bareng filmnya (pinjem VCD di rental), nunggu antrian pinjem novelnya (gia malah sampai beli), dan ngoleksi foto-fotonya (dulu, punya foto dari film yang kita suka itu something banget. Berharga banget, gak kayak sekarang. Bahkan si gia punya kebiasaan unik buat nonton Harry Potter. Diputar 3 kali. Sesi pertama beneran nonton, sesi kedua untuk motret adegan pake kamera hape, sesi ketiga adalah waktunya menikmati wajah rupawan Daniel Radcliffe). Apalagi ternyata dia sama penghayalnya seperti aku. Imajinasi kami terlalu tinggi buat anak seumuran itu. Haha. Trus kelas 2 SMP itu juga kan udah masanya puber, udah mulai naksir-naksir cowok gitu, hihi. Jadilah kita teman curhat dalam masalah yang satu ini. Apalagi Gia yang waktu itu naksir teman sekelas kami, cowok spektakuler di Sekolah pada masa itu. N, nama samarannya, haha aku masih inget. I have kept your secret till now, bibeh. ;)
Makin lama kayaknya kita makin klop aja, dan makin jodoh. Kenapa dibilang jodoh? Di SMA kita satu sekolah lagi, dan sampai kami berumur seperti sekarang, kami masih lengket, seperti pasangan lesbi kata Gia. Ck ck ck

SMA? Lain lagi ceritanya....
Panjaaaaaang.... lanjut lagi kuliah?? Lain lagiii haha
Every season has a unique story, and it just like a season for my own drama series, J

See you next chapter in my next story

Minggu, 26 April 2015

the fighter

Hari ini, 26 April 2015. Tepat satu bulan yang lalu aku dan kedua belas temanku resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan dari Universitas Trunojoyo Madura. Duh, kalo inget hari itu, rasa campur aduk yang aku rasain, kalo diibaratkan gado-gado, itu adalah gado-gado ternikmat yang bahkan seorang Chef Juna bakal mengomentari dengan kata “welldone!”. Ada rasa lega, ada rasa bahagia, ada rasa bangga, ada rasa terharu, ada rasa sedih, ya kayak gado-gado yang benar-benar dinikmati tiap suapnya. Kadang ada krupuk yang gurih, kadang ada sambel yang pedes.
Paling mengesankan waktu namaku disebut untuk pengukuhan yudisiawan, “Desi Faizah Cahyati, S.Pd”, then my heart answered, “Yes, I am”. Well, S.Pd itu hasil selama 3,5 tahun. Hehe
Ya, itu masa bahagianya. Sekarang aku sudah berpindah halaman. Dari dunia akademik sebagai mahasiswa, ke dunia nyata, sebagai sarjana, seperti ribuan sarjana lainnya. Dan lagu “sarjana muda” nya Iwan Fals berasa pas banget jadi theme song mengiringi satu bulan hidupku pasca wisuda.
            Engkau sarjana muda resah mencari kerja
            Mengandalkan ijazahmu
            Empat tahun lamanya bergelut dengan buku
            Sia-sia semuanya
Hiks... it is the real life, it is the jungle. And I am not the lion, I am not the tiger.
Mau ngajar di SD, ternyata gak sepolos yang aku kira. Impian selama menjadi mahasiswa pendidikan buat ngajar di pelosok negeri pun, kandas seketika, kebentur restu orangtua. Hiks...
“kalo kamu sampe berangkat kesana, dijamin mama gak bisa makan, gak bisa tidur mikirin kamu. Kamu mau?”
Aku menggeleng. Meski sebenernya dalam hati membatin, “kalo laper pasti makan, kalo ngantuk pasti tidur” (oke ini rada gak sopan, hehe)
Setelah percakapan mendalam, sebenernya alasan satu-satunya mereka memberi izin adalah, tidak pasrah melepas anak paling kecil ini ke perantauan. Ya kalo kamu anak terakhir, siap-siap menerima resiko ini.
Beberapa hari kemudian, dengan sedikit merengut aku berkata “masak aku mau sampe mati di sumenep terus?”
And the answer is, “nggak juga. Kalo kamu dapet pekerjaan di luar kota gak pa-pa. Asal jangan sampe  keluar Jawa. Terlalu jauh. Atau misalnya nanti ikut suami, itu juga gak pa-pa. Sudah tanggung jawab suami.”
Skak! Gak ngomong lagi.
Baiklah, mengalah. Mencari pekerjaan sebagai guru Sekolah Dasar di kota sendiri pun, harus cukup bersabar. Sempat terpikir buat mencari pekerjaan yang melenceng dari jurusan kuliah, tapi kok rasanya sedih dan gak rela banget. Karena selama kuliah dulu, yang kebayang aku bakal kerja di depan ruang kelas, bercengkrama sama murid-murid dan menertawakan tingkah mereka yang selalu ‘ada-ada aja’. Lalu mereka berebutan mencimu tanganku sepulang sekolah. Atau mengoceh kepadaku tentang apa saja. Dih, seneng banget ngebayanginnya. Toh, kalau nanti akhirnya aku memilih pekerjaan lain selain guru, akan aku catat disini, biar aku sendiri ingat, bahwa saat itu aku akan selalu merindukan saat-saat berada di depan kelas, berada di sekeliling murid-murid.
Kenapa? Karena kehidupan ini gak seideal yang aku bayangin. Tapi aku akan berusaha untuk terus berprasangka baik.
Ah, malah sekarang aku dapat pemikiran baru. Siapa bilang aku terkungkung karena pembatasan area oleh orangtuaku. Yang dibatasi kan Cuma area, tapi yang laiinya nggak. Hihi... oke! Insyaallah dimanapun itu, yang bermanfaat tetap akan berguna dan berharga. J

Ya, in this jungle,  I am not a lion, I am not a tiger. But surely, I am a fighter. J